Blog Jagoan Hosting | Tutorial Website & Web Hosting Indonesia

Pernah Mendengar Jaringan Saraf Tiruan? Simak Penjelasannya Di Sini

Saat ini bidang kecerdasan buatan dalam usahanya menirukan intelegensi manusia, belum mengadakan pendekatan dalam bentuk fisiknya melainkan dari sisi yang lain. Pertama-tama diadakan studi mengenai teori dasar mekanisme proses terjadinya intelegensi. Bidang ini disebut Cognitive Science.

Dari teori dasar ini dibuatlah suatu model untuk disimulasikan pada komputer, dan dalam perkembangannya yang lebih lanjut dikenal berbagai sistem kecerdasan buatan yang salah satunya adalah jaringan saraf tiruan. Dibandingkan dengan bidang ilmu yang lain, jaringan saraf tiruan relatif masih baru.

Sejumlah literatur menganggap bahwa konsep jaringan saraf tiruan bermula pada makalah Waffen McCulloch dan Walter Pitts pada tahun 1943. Dalam makalah tersebut mereka mencoba untuk memformulasikan model matematis sel-sel otak. Metode yang dikembangkan berdasarkan sistem saraf biologi ini, merupakan suatu langkah maju dalam industri komputer.

Otak manusia terdiri dari milyaran sel saraf  (neuron). Masing-masing neuron terhubung secara langsung sampai 200.000 koneksi dengan sel saraf yang lain (Nelson dan Illingworth, 1991). Sel-sel saraf ini mampu mengolah berbagai informasi yang pernah dan sedang dialami oleh manusia.

Ketika manusia berpikir, aktivitas-aktivitas yang terjadi adalah aktivitas mengingat, memahami, menyimpan, maupun memanggil kembali informasi-informasi yang pernah dipelajari oleh otak (Puspitaningrum, 2006). Tiap-tiap sel bekerja seperti suatu prosesor sederhana (Kusumadewi,2004).

Jaringan syaraf tiruan adalah sistem komputasi yang arsitektur dan operasinya diilhami dari pengetahuan tentang sel syaraf biologis di dalam otak yang merupakan salah satu representasi buatan dari otak manusia yang selalu mencoba menstimulasi proses pembelajaran pada otak manusia tersebut, yang dapat digambarkan sebagai model matematis dan komputasi untuk fungsi aproksimasi non-linear, klasifikasi data cluster dan regresi non-parametrik atau sebuah simulasi dari koleksi model jaringan syaraf biologi.

Menurut Hermawan (2006) pelatihan perlu dilakukan pada suatu jaringan syaraf tiruan sebelum digunakan untuk menyelesaikan masalah. Hasil pelatihan jaringan syaraf tiruan dapat diperoleh tanggapa yang benar (yang diinginkan) terhadap masukan yang diberikan. Jaringan syaraf tiruan dapat memberikan tanggapan yang benar walaupun masukan yang diberikan terkena derau atau berubah oleh suatu keadaan.

Baik tidaknya suatu model JST ditentukan oleh pola antar neuron, metode untuk menentukan dan mengubah bobot, dan fungsi aktivasi. Jaringan saraf tiruan memiliki kelebihan yaitu mampu mengakuisisi pengetahuan walau tidak ada kepastian, mampu melakukan generalisasi dan ekstraksi dari suatu pola data tertentu, dapat menciptakan suatu pola pengetahuan melalui pengaturan diri atau kemampuan belajar (self organizing), memiliki fault tolerance, gangguan dapat dianggap sebagai noise saja, dan memiliki kemampuan perhitungan secara paralel sehingga proses lebih singkat.

Pada perusahaan teknologi komunikasi, seperti provider hosting Indonesia, jaringan saraf tiruan dapat digunakan untuk meramalkan kebutuhan bandwidth agar sesuai dengan banyaknya customer saat ini maupun yang akan datang.

Nelsi Islamiyati