- Pastikan data website sudah di-backup sebelum proses pemindahan hosting dimulai.
- Pilihlah provider hosting dengan bantuan migrasi agar risiko downtime bisa diminimalkan.
- Lakukan testing website di server baru sebelum mengarahkan DNS atau nameserver domain.
- Hindari langsung menonaktifkan hosting lama sebelum performa website di server baru stabil.
Ngurus Server Sendiri Makan Waktu & Bikin Ribet?
Bayangkan semua urusan teknis—update, keamanan, monitoring, backup—ditangani tim profesional. Dengan Managed Hosting, Anda cukup fokus pada bisnis.
Apakah Bisa Pindah Hosting?
Tentu saja bisa. Pindah hosting disarankan jika performa hosting lama mulai lambat dan sering downtime.
Sekilas memang terdengar teknis, tetapi proses ini sebetulnya cukup mudah jika provider mendukung.
Sobat bisa memindahkan antar shared hosting, dari shared hosting ke cloud hosting, maupun pindah ke VPS.
Jika dilakukan dengan benar, migrasi hosting bisa berjalan dengan downtime yang minim bahkan hampir tanpa gangguan.
Proses Pindah Hosting ke Provider Baru
Pindah ke provider baru biasanya dilakukan ketika ingin mendapatkan layanan yang lebih stabil. Proses migrasi hosting sendiri sebenarnya tidak terlalu rumit selama dilakukan secara bertahap dan hati-hati. Sebagai gambar, inilah urutan prosesnya:
1. Evaluasi Kebutuhan Website
Cek terlebih dahulu performa hosting lama. Dari evaluasi tersebut, kamu bisa menentukan jenis hosting baru yang lebih sesuai, apakah cloud hosting atau VPS.
Tujuannya agar setelah pindah hosting, performa website bisa meningkat.
2. Backup Database Website
Tahap berikutnya cadangkan seluruh file website dari hosting lama untuk menghindari kehilangan data apabila terjadi kendala selama proses migrasi berlangsung.
3. Siapkan Hosting Baru dan Transfer Data
Setelah backup selesai, hosting baru perlu dikonfigurasi terlebih dahulu agar lebih sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya, database website akan dipindahkan ke server baru dengan bantuan tim teknis provider.
4. Update DNS dan Lakukan Testing Website
Jika proses transfer data sudah selesai, domain perlu diarahkan ke hosting baru melalui pengaturan DNS. Setelah propagasi DNS berjalan, lakukan testing untuk memastikan seluruh halaman dapat diakses.
Cara Pindah Hosting ke VPS tanpa Risiko Downtime
Cara ini memang jalan keluar terbaik jika website mulai membutuhkan resource yang lebih besar. Namun, proses ini perlu dilakukan dengan benar agar website tidak mengalami downtime saat perpindahan server berlangsung. Mari simak caranya:
1. Catat Konfigurasi Hosting Lama
Sebelum migrasi dimulai, catat dahulu informasi hosting lama seperti lokasi file website, database, username server, hingga pengaturan DNS. Informasi ini diperlukan saat konfigurasi di VPS baru agar bisa dibuat sama seperti server sebelumnya.
2. Backup Website dan Database
Backup seluruh isi website sebelum proses migrasi dilakukan untuk berjaga-jaga apabila terjadi kesalahan saat transfer data.
3. Siapkan Environment VPS Baru
Selanjutnya VPS perlu dikonfigurasi terlebih dahulu. Software yang digunakan harus kompatibel dengan website lama agar tidak terjadi masalah saat website dijalankan. Contohnya jika menggunakan WordPress, struktur folder juga sebaiknya dibuat serupa.
4. Transfer File Website ke VPS
Proses transfer data bisa dilakukan menggunakan FTP, SCP, atau rsync. Untuk website berukuran besar, rsync lebih umum dipakai karena mampu memindahkan file lebih cepat tanpa mengulang transfer dari awal jika koneksi terputus.
5. Import Database
Setelah file website berhasil dipindahkan, lakukan import database ke VPS baru menggunakan phpMyAdmin atau command line MySQL.
Selanjutnya, sesuaikan konfigurasi database pada file website seperti wp-config.php agar website dapat terhubung ke database baru agar website bisa langsung berjalan.
6. Arahkan DNS setelah Website Dipastikan Stabil
Sebelum mengganti DNS atau nameserver domain, lakukan testing terlebih dahulu pada VPS baru menggunakan temporary URL atau file hosts.
Jika seluruh website sudah berjalan normal, barulah arahkan domain ke IP VPS baru agar pengunjung mulai mengakses server terbaru.
Cara Pindah Hosting Domain
Untuk memindahkan domain bisa dilakukan tanpa harus mengganti nama domain website kamu. Jika membutuhkan layanan ini, mari pahami dulu alur prosesnya sebagai berikut:
1. Pastikan Domain Memenuhi Syarat Transfer
Umumnya domain harus berusia minimal 60 hari dan tidak dalam masa expired agar proses migrasi bisa diproses tanpa kendala.
Selain itu, domain juga harus berada dalam status unlock dan memiliki EPP Code. Kode ini digunakan sebagai verifikasi kepemilikan domain.
2. Backup Data Website
Berikutnya lakukan backup seluruh data website untuk menghindari kehilangan data apabila terjadi eror saat proses migrasi berlangsung.
3. Siapkan EPP Code dan Informasi DNS
Saat melakukan transfer domain, kamu perlu meminta EPP Code dari registrar lama. Catat juga seluruh konfigurasi DNS, karena akan diperlukan agar website dan email tetap berjalan normal setelah domain dipindahkan.
4. Ajukan Transfer ke Provider Baru
Jika semua persiapan sudah lengkap, kamu bisa mulai mengajukan transfer domain melalui dashboard provider hosting baru.
Di Jagoan Hosting, kamu hanya perlu memasukkan nama domain dan EPP Code untuk memulai proses migrasi.
Setelah proses pembayaran selesai, tim akan melakukan verifikasi apakah domain memenuhi syarat transfer. Jika lolos verifikasi, proses transfer domain akan berjalan secara otomatis.
5. Verifikasi Domain ke Hosting Baru
Terakhir verifikasi transfer domain melalui email registrant. Setelah domain berhasil dipindahkan, kamu tinggal mengarahkan nameserver atau DNS ke hosting baru agar website dapat online menggunakan server yang baru.
Keuntungan Pindah Hosting daripada Upgrade
Jika provider sebelumnya sering mengalami kendala. Oleh karena itu, banyak yang memutuskan migrasi hosting guna mendapatkan performa yang lebih optimal.
Jika bedah, berikut beberapa keuntungan pindah daripada upgrade:
1. Performa Lebih Stabil
Berganti provider memungkinkan website menggunakan infrastruktur server yang lebih stabil. Dampaknya, potensi bounce rate bisa ditekan sekaligus membantu performa SEO website.
2. Keamanan Website Lebih Terjamin
Hosting baru bisa menawarkan perlindungan tambahan yang lebih baik, seperti firewall, malware scanner, hingga proteksi DDoS.
3. Support Teknis Lebih Responsif
Dengan pindah ke provider yang memiliki support responsif, proses troubleshooting bisa lebih cepat ditangani.
Apalagi jika tersedia dukungan konsultasi via WhatsApp 24/7 dan layanan teknis yang siap membantu kapan saja seperti tim Jagoan NextCare.
4. Biaya Lebih Sesuai dengan Kebutuhan
Kadang upgrade hosting lama justru membuat biaya semakin mahal.
Dalam kondisi seperti ini, berganti provider hosting bisa lebih baik agar kamu mendapatkan spesifikasi server yang lebih sesuai kebutuhan website.
Risiko Pindah Hosting Jika Tidak Dilakukan dengan Benar
Jika dilakukan tanpa provider yang bertanggung jawab, proses ini bisa menimbulkan masalah baru, seperti data hilang.
Untuk itu, mari pahami apa saja risiko dan cara mengatasinya:
- Website Mengalami Downtime: Saat proses migrasi dilakukan tanpa pengaturan DNS yang benar, website bisa tidak dapat diakses sementara waktu.
- Data Website Hilang: Kesalahan saat memindahkan database dapat menyebabkan data hilang atau konten tidak muncul sempurna.
- Performa Website Menjadi Tidak Stabil: Hosting baru yang tidak sesuai spesifikasi website bisa membuat loading website justru lebih lambat setelah migrasi.
- Risiko Gangguan SEO: Jika migrasi menyebabkan website lama down terlalu lama atau URL berubah tanpa redirect yang tepat, ranking SEO dapat menurun.
Pindah vs Upgrade Hosting, Pilih yang Mana?
Pindah hosting biasanya dilakukan ketika layanan hosting lama sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan website.
Upgrade memang lebih pas jika kamu masih nyaman dengan provider. Jadi pilihan terbaik tergantung pada masalah yang sedang dialami.
Mari lihat tabel perbandingan berikut sebagai gambaran:
| Pindah Hosting | Upgrade Hosting |
| Beralih ke provider yang lebih baik | Menambah resource di provider yang sama |
| Perlu migrasi file | Lebih cepat tanpa migrasi |
| Risiko downtime jika salah migrasi | Risiko lebih kecil karena server tetap sama |
| Disarankan jika hosting lama sering bermasalah atau support buruk | Dilakukan jika website mulai butuh resource yang lebih besar |
| Performa bisa meningkat signifikan jika pindah ke server lebih baik | Performa meningkat karena resource bertambah |
Jika masalah website berasal dari kualitas layanan, maka pindah ke provider yang lebih baik adalah jalan yang tepat.
Namun jika provider saat ini masih memuaskan dan kendalanya hanya pada keterbatasan resource, upgrade hosting biasanya lebih disarankan.
FAQ
1. Apakah Pindah Provider Hosting bisa Menyebabkan Website Down?
Bisa, jika proses migrasi dan pengaturan DNS dilakukan tidak tepat. Namun downtime dapat diminimalkan dengan backup dan migrasi yang terencana.
2. Berapa Lama Proses Pemindahan Hosting?
Tergantung ukuran website dan kompleksitas data, tetapi umumnya membutuhkan beberapa jam hingga 1×24 jam termasuk propagasi DNS.
3. Apakah SEO Website akan Turun setelah Pindah Provider Hosting?
Tidak selalu. SEO biasanya tetap aman jika domain dan struktur URL tidak berubah selama migrasi.
Rekomendasi Jasa Pindah Hosting dengan Bantuan Migrasi Penuh
Kalau kamu ingin pindah hosting tanpa repot mengurus proses teknis sendiri, bisa pakai layanan VPS Managed dari Jagoan Hosting.
Nantinya, proses migrasi website akan dibantu penuh oleh tim teknis. Kamu tidak perlu mengurus konfigurasi server karena semuanya sudah ditangani oleh tim support.
Mengapa pilih VPS Managed dari Jagoan Hosting?
- Resource dedicated
- Bantuan migrasi hosting penuh tanpa ribet
- Monitoring server dan optimasi performa
- Extended backup
- Gratis lisensi cPanel, Imunify360, dan SSL
- Dukungan teknis via WhatsApp 24/7
Bagi kamu yang belum yakin memilih paket server yang sesuai, tim Jagoan NextCare menyediakan konsultasi gratis via WhatsApp selama 24/7. Kamu juga bisa serahkan pengelolaan server sepenuhnya ke jasa manage server dari Jagoan Hosting sehingga tidak perlu memikirkan urusan teknis.


