MONOLITHIC VS MICROSERVICES menjadi salah satu pertimbangan penting ketika sebuah aplikasi mulai mengalami peningkatan jumlah pengguna dan traffic. Seiring bertambahnya workload, aplikasi membutuhkan kapasitas yang mampu menjaga performa, stabilitas, dan ketersediaan layanan. Karena itu, pengembang perlu memahami kapan scaling dibutuhkan, bagaimana memilih strategi yang sesuai, serta bagaimana arsitektur aplikasi berhubungan dengan infrastruktur yang digunakan. Melalui program rutin Tech Corner: Community Meetup, Jagoan Hosting menghadirkan sesi edukatif bertajuk “Monolithic vs Microservices: Choosing the Right Architecture, Scaling Strategy & Infrastructure” untuk membahas tantangan tersebut secara lebih praktis.
Sesi ini menghadirkan Sigit Sasongko, Senior Software Engineer & Full Stack Developer, yang membagikan perspektif mengenai pengembangan aplikasi dari sisi arsitektur, strategi scaling, hingga infrastruktur pendukung. Peserta tidak hanya diajak memahami konsep secara teori, tetapi juga melihat bagaimana perubahan workload dapat memengaruhi performa aplikasi dan penggunaan resource melalui studi kasus serta demonstrasi langsung.
Kapan Aplikasi Membutuhkan Scaling?
Tidak semua aplikasi membutuhkan scaling sejak awal. Pada tahap early stage, kebutuhan aplikasi biasanya masih dapat ditangani dengan kapasitas infrastruktur yang relatif sederhana. Namun, ketika jumlah pengguna, traffic, maupun proses yang harus dijalankan semakin meningkat, kapasitas yang tersedia dapat mulai mencapai batasnya.
Beberapa indikator yang dapat diperhatikan antara lain peningkatan response time atau latency, penggunaan CPU dan RAM yang semakin tinggi, meningkatnya beban database, hingga menurunnya kemampuan aplikasi dalam merespons permintaan pengguna. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pengembang perlu mengevaluasi kapasitas dan mempertimbangkan strategi scaling yang tepat.
Scaling sendiri dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Vertical scaling dilakukan dengan meningkatkan kapasitas mesin yang digunakan, seperti menambah CPU, RAM, atau penyimpanan. Sementara itu, horizontal scaling dilakukan dengan menambah jumlah server atau instance untuk membagi beban aplikasi.
Monolithic vs Microservices: Mana yang Tepat?
Perbandingan MONOLITHIC VS MICROSERVICES tidak semata-mata menentukan arsitektur mana yang lebih baik. Pilihan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi, kompleksitas sistem, kemampuan tim, serta pola workload yang dihadapi.
Pada arsitektur Monolithic, berbagai fungsi aplikasi berada dalam satu kesatuan sistem. Pendekatan ini relatif sederhana untuk dikembangkan, diuji, dan dikelola pada tahap awal. Namun, ketika aplikasi semakin besar, perubahan atau pengembangan pada satu bagian dapat berdampak pada keseluruhan sistem. Proses scaling juga dapat menjadi kurang efisien apabila hanya bagian tertentu yang sebenarnya membutuhkan tambahan kapasitas.
Sementara itu, Microservices memecah aplikasi menjadi sejumlah layanan yang lebih kecil dan dapat dikembangkan secara relatif independen. Pendekatan ini memungkinkan layanan tertentu untuk di-scale sesuai kebutuhannya. Misalnya, ketika layanan pembayaran mengalami peningkatan traffic, kapasitas layanan tersebut dapat ditingkatkan tanpa harus melakukan scaling pada seluruh aplikasi.
Meski menawarkan fleksibilitas, Microservices juga menghadirkan kompleksitas baru, seperti komunikasi antar-layanan, monitoring, deployment, pengelolaan jaringan, dan kebutuhan koordinasi yang lebih tinggi. Artinya, fleksibilitas yang diperoleh juga perlu diimbangi dengan kesiapan teknis dan operasional.
Menguji Scaling melalui Infrastruktur VPS Hosting
Strategi scaling perlu didukung oleh infrastruktur yang memungkinkan pengembang melakukan pengujian dan pemantauan secara optimal. Salah satunya melalui VPS Hosting, yang dapat digunakan sebagai environment untuk menjalankan aplikasi, mengamati penggunaan resource, serta melakukan simulasi terhadap peningkatan beban.
Dengan lingkungan VPS, pengembang dapat memantau penggunaan CPU, RAM, penyimpanan, dan berbagai parameter performa lainnya. Pengujian tersebut membantu memberikan gambaran mengenai bagaimana aplikasi merespons ketika workload meningkat sekaligus membantu menentukan kapan kapasitas perlu ditingkatkan.
Melalui Tech Corner, peserta diharapkan tidak hanya memahami perbedaan arsitektur, tetapi juga mampu melihat hubungan antara desain aplikasi, strategi scaling, dan kesiapan infrastruktur. Pada akhirnya, tidak ada satu arsitektur yang selalu menjadi pilihan terbaik untuk semua aplikasi. Keputusan perlu didasarkan pada kebutuhan, skala, workload, serta kemampuan tim dalam mengelola sistem. Dengan memahami MONOLITHIC VS MICROSERVICES, pengembang dapat menentukan strategi scaling dan infrastruktur yang lebih tepat agar aplikasi mampu berkembang secara stabil, efisien, dan siap menghadapi peningkatan pengguna maupun traffic.

