- Viral marketing menggunakan audiens untuk ikut menyebarkan konten sehingga jangkauannya lebih luas dan cepat menyebar.
- Peluang konten viral lebih besar jika brand muncul pada momentum yang tepat.
- Keberhasilan viral marketing dinilai dari pertumbuhan audiens dan CTA.
- AI Product Video Generator bisa percepat produksi variasi video untuk creative testing.
Mengapa Strategi Viral Marketing Lebih Banyak Dipilih?
Viral marketing menarik karena proses distribusinya tidak sepenuhnya berada di tangan brand.
Ketika sebuah konten layak diperbincangkan, audiens dapat meneruskannya kepada jaringan mereka sendiri.
Efek tersebut membuat jangkauan berpotensi berkembang lebih cepat tanpa harus mengeluarkan biaya iklan besar.
Dampaknya konten akan ramai dibicarakan, sehingga meningkatkan brand awareness hingga memunculkan UGC.
Namun hasil marketing ini memang sulit dipastikan. Konten yang dibuat dengan matang belum tentu viral.
Cara Kerja Viral Marketing Social Media
Viral marketing strategies ini bekerja ketika pesan brand diteruskan oleh pengguna melalui share, repost, atau UGC.
Semakin banyak yang membicarakannya, maka semakin besar pula peluang brand kamu dilirik oleh audiens luas.
Secara sederhana, alurnya dapat berjalan seperti berikut:
- Brand Menentukan Pesan Kampanye: Tentukan satu hal yang ingin diingat audiens setelah melihat kampanye.
- Buat Konten yang Memancing Respons: Gunakan konten yang mendorong audiens untuk mempunyai alasan untuk bereaksi.
- Konten Didistribusikan ke Audiens Awal: Brand mempublikasikannya melalui akun sosial media bisnis.
- Audiens Mulai Berinteraksi: Jika views, komentar, likes, dan shares naik, maka bisa pertanda bahwa konten menarik perhatian.
- Konten Masuk ke Jaringan Baru: Setiap share membuka kemungkinan konten ditemukan orang yang sebelumnya tidak mengikuti akun brand.
- UGC dan Percakapan Memperpanjang Distribusi: Audiens dapat membuat versi sendiri konten yang membicarakan kampanye kamu.
- Brand Mengarahkan Perhatian ke Tujuan Bisnis: Trafik yang sudah terbentuk perlu diarahkan ke akun bisnis untuk melakukan CTA yang diharapkan.
Perbedaan Viral Marketing dan Marketing Konvensional
Perbedaan paling jelas terletak pada siapa yang memperluas distribusi pesan. Pada marketing konvensional, perusahaan cenderung yang mengendalikan media distribusinya.
Sedangkan pada viral marketing, audiens justru yang bertugas meneruskan pesan tersebut ke orang lain.
Jika dibandingkan, maka berikut perbedaannya:
| Viral Marketing | Marketing Konvensional |
| Berkembang melalui word of mouth digital | Berkembang melalui kanal yang dipilih brand |
| Audiens ikut menyebarkan konten | Audiens berfungsi sebagai penerima pesan |
| Hasilnya berkembang cepat jika konten banyak dibagikan | Hasilnya bisa diperkirakan berdasarkan budget |
| Biaya iklan lebih rendah | Biaya iklan lebih tinggi |
| Brand sulit mengontrol jika konten menyebar | Brand memiliki kontrol lebih besar |
| Performa bisa meningkat dalam waktu singkat | Lebih mengikuti jadwal kampanye |
Cara Membuat Viral Marketing
Tidak ada formula yang menjamin suatu konten akan viral. Kamu perlu nyaman melakukan eksperimen karena tidak setiap video akan berhasil.
Jadi realistisnya adalah memperbesar peluang konten dibagikan kemudian mengulang pola yang memang terbukti bekerja. Adapun strategi yang dapat kamu gunakan yaitu:
1. Tetapkan Tujuan Selain Mendapatkan Views
Jangan menggunakan angka views sebagai satu-satunya target. Tentukan apa yang ingin terjadi setelah konten memperoleh perhatian.
Misalnya mengumpulkan leads atau menghasilkan transaksi. Tujuan tersebut nantinya menentukan jenis konten dan CTA yang perlu dimasukkan.
2. Kenali Audiens yang Ingin Dibuat Bereaksi
Pahami masalah dan target audiens kamu, lalu jadikan itu sebagai topik konten yang ingin dibuat.
Misalnya, sebuah kampanye menargetkan remaja usia 15–22 tahun yang mengalami jerawat pubertas tetapi uang jajannya terbatas.
Nantinya konten viral marketing yang dibuat bisa tentang video terkait tentang “Penderitaan pejuang jerawat pas mau ketemu gebetan”.
3. Tentukan Alasan Orang Mau Membagikannya
Sebelum produksi, tanyakan satu hal, kenapa seseorang harus mengirim konten ini ke temannya?
Alasannya bisa karena kontennya lucu, mengandung informasi berguna, atau pengalaman yang relatable.
4. Buat Hook yang Menahan Scroll
Mulailah dengan intro yang tidak biasa, misalnya pertanyaan pemicu atau masalah yang familiar. Itu harus masuk di lima detik pertama, karena agar bisa mendapatkan perhatian pengguna social media.
5. Pastikan Produk Tetap Nyambung dengan Cerita
Konten dapat memperoleh jutaan views, tetapi hasilnya minim jika audiens tidak mengingat siapa yang membuatnya.
Hubungkan konsep konten dengan masalah yang diselesaikan produk, Jadi tujuannya agar perhatian terhadap konten tetap dapat kembali ke produk.
6. Buat Konten yang Mudah Direplikasi
Jenis konten viral marketing yang bisa dicoba adalah challenge atau pertanyaan tertentu dapat memberi ruang kepada audiens untuk membuat versinya sendiri.
7. Lakukan Seeding di Tempat yang Tepat
Jangan hanya mengunggah konten lalu meninggalkannya. Distribusikan konten ke atau audiens yang menjadi target.
8. Buat Banyak Variasi dan Ulangi yang Berhasil
Satu konsep tidak harus dibuat satu kali. Kalau satu pola memperoleh lebih banyak share atau menghasilkan trafik lebih baik, buat variasi berikutnya berdasarkan pola tersebut.
Contoh Viral Marketing yang Bisa Kamu Tiru
Kamu tidak perlu menyalin bentuk kampanyenya secara persis. Cukup tentukan konten yang membuat orang terdorong bereaksi dan membagikannya, lalu adaptasikan dengan karakter brand sendiri.
Beberapa contoh populernya yaitu:
- ALS Ice Bucket Challenge: Format challenge untuk direplikasi dan peserta menominasikan orang lain. Penyebarannya berkembang secara global dan kampanye tersebut mengumpulkan donasi sekitar US$220 juta.
- Dumb Ways to Die: Metro Trains mengubah pesan keselamatan yang biasanya serius menjadi lagu dan animasi yang mudah diingat.
- Dove Real Beauty Sketches: Dove menggunakan pain point dan emosi terkait persepsi perempuan terhadap dirinya sendiri. Pesannya membuat audiens terdorong membagikannya kepada orang lain.
- Heyday Canning Bean Swap: Konten TikTok dari aktivitas tersebut memperoleh lebih dari 230.000 views sekaligus menghasilkan UGC tambahan.
FAQ
1. Apakah Viral Marketing Bisa Menjamin Penjualan?
Tidak. Konten viral dapat meningkatkan perhatian, reach, dan brand awareness, tetapi penjualan tetap dipengaruhi relevansi audiens, produk, penawaran, serta langkah setelah pengguna melihat konten.
2. Berapa Lama Konten Bisa Menjadi Viral?
Tidak ada durasi pasti karena penyebaran bergantung pada respons audiens, momentum, distribusi, dan platform. Karena itu, lebih baik fokus mengukur perkembangan shares dan engagement daripada menentukan batas waktu untuk viral.
3. Platform Apa yang Cocok untuk Viral Marketing?
Pilih platform berdasarkan lokasi target audiens, bukan hanya platform yang sedang populer. TikTok, Instagram, YouTube, dan platform sosial lainnya dapat digunakan selama format kontennya sesuai dengan perilaku audiens.
Buat Video Viral Marketing dalam Hitungan Menit dengan AI Video Generator!
Viral marketing membutuhkan eksperimen. Masalahnya, membuat lima sampai sepuluh konsep video dari nol berarti kamu harus mengulang proses berkali-kali.
Maka untuk memudahkannya, kamu bisa buat video produk siap upload hitungan menit tanpa perlu editing dengan AI Product Video Generator Jagoan Hosting.
Tools ini dapat foto produk menjadi video pendek sehingga kamu dapat memperbanyak variasi kreatif tanpa produksi dari nol.
Cara kerjanya yaitu:
- Foreplay mengambil data produk dan referensi video kompetitor.
- Informasi tersebut diolah menjadi prompt video.
- Foto produk dan prompt diteruskan untuk menghasilkan video produk pendek bergaya sinematik.
- Video yang selesai dibuat dapat langsung masuk ke folder Drive yang sudah dikonfigurasi.
Kalau mengalami kesulitan, kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sendiri. Terdapat Jagoan Nextcare yang menyediakan dukungan melalui WhatsApp 24/7.
Kalau kebutuhanmu sudah lebih kompleks dan ingin pengelolaan teknis yang lebih intensif, gunakan VIP Support Jagoan Hosting.
Jadi, jangan berhenti pada satu ide konten. Buat lebih banyak variasi dan uji mana yang berpeluang viral!


