Tahun lalu Indonesia dibuat khawatir karena kasus kebocoran data pengguna pada salah satu e-commerce terkemuka. Mungkin kamu juga menjadi salah satu yang mengalaminya. Pengalaman ini terjadi di tengah pandemi ketika perilaku berbelanja masyarakat bergerak dari arah konvensional ke digital. Momen pandemi mendorong masyarakat untuk lebih banyak melakukan transaksi pembelian secara online. Kasus ini memunculkan pertanyaan sekaligus kekhawatiran terkait keamanan data e-commerce, khususnya di Indonesia.

Lalu, sebenarnya amankah data-data kita di e-commerce? Kita ulas sekarang!

keamanan data e-commerce
gambar dari unsplash

Pilar keamanan data e-Commerce

Ada empat pilar sistem keamanan sebuah e-commerce. Pilar-pilar ini meliputi confidentiality, integrity, authentication, dan no-repudiation. Confidentiality merujuk pada keamanan data. Apakah data benar-benar terjaga kerahasiaannya dan hanya bisa diakses oleh pihak-pihak yang berhak. Pilar yang satu ini mungkin sudah sering kamu dengar dalam bahasan seputar enkripsi data. Inti dari enkripsi data adalah mengamankan data dengan membatasi akses melalui proses enkripsi.

Pilar integritas bisa kita artikan sebagai keaslian data. Hal ini menjelaskan bagaimana data terjaga keasliannya dan nggak bisa diubah oleh sembarangan orang, Sob. Autentifikasi adalah jaminan keaslian data pengguna. Pilar yang terakhir yaitu no-repudiation yang maknanya adalah tidak adanya penyangkalan data.

Ancaman-ancaman yang menghantui

Apa saja sih ancaman-ancaman yang menghantui sistem keamanan e-commerce? Sama seperti kasus keamanan internet lainnya, ada banyak risiko kasus yang terjadi. Termasuk pencurian data dan spoofing.

Secara umum beberapa ancaman ini menjadi ancaman yang paling mengancam sistem keamanan e-commerce:

  1. Pembacaan dan pengubahan data secara ilegal
  2. Kecurangan dari pihak yang nggak punya wewenang
  3. Pembobolan akses akun dan data

Tiga hal ini menjadi ancaman dasar yang wujudnya bisa beragam. Salah satu contohnya ya kasus pencurian data pengguna yang sering kita dengar. Lalu, bagaimana solusinya? Apakah sistem keamanan termasuk keamanan data e-commerce bisa ditingkatkan?

Solusi dan strategi

Ada banyak cara yang bisa diterapkan sebagai strategi pencegahan dalam sistem keamanan di e-commerce. Mulai dari melakukan enkripsi hingga merancang firewall. E-commerce bisa menggunakan plugin keamanan untuk menambah kekuatan sistem keamanannya. Sebelum itu, mereka wajib memiliki server terbaik dan hosting web yang memenuhi standar keamanan. E-commerce wajib menggunakan hosting web yang berintegritas dan menjaga keamanan. Termasuk keamanan dari spoofing, hijacking, dan jenis ancaman lainnya.

Nggak cukup sampai di situ, e-commerce juga sebaiknya memiliki firewall khusus yang dikombinasikan dengan plugin keamanan lainnya. Sebisa mungkin e-commerce juga menggunakan SSL Certificate untuk menambah sistem keamanan mereka. SSL (Secure Socket Layer) akan meningkatkan lapisan enkripsi sehingga keamanannya jadi lebih terjaga.

Standar keamanan yang seharusnya

Dalam dunia keamanan teknologi khususnya internet, ada beberapa protokol keamanan yang umum digunakan. Salah satunya adalah SSL. Selain SSL ada pula HTTP (Hypertext Transfer Protocol), secure MIME, secure WAN (Wide Area Nets), dan SET (Secure Electronic Transaction). 

Masing-masing protokol keamanan ini punya fungsi dan kegunaannya masing-masing. Bukan cuma penting untuk e-commerce, tapi juga untuk semua pengguna internet lainnya. Entah untuk keperluan pribadi, bisnis, pendidikan, atau bidang lainnya, sistem keamanan internet adalah hal yang perlu dijaga.

Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan Rekomendasi Server Terbaik dan layanan Hosting Terbaik sebagai strategi pencegahan kasus keamanan. Bukan cuma buat e-commerce, tapi juga buat kamu para Sobat Jagoan Hosting yang menjalankan bisnis secara digital.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like